-- --> Skip to main content

Musik Dan Kekasih



Kata-kata al-Ghazali ini ingin menjelaskan bahwa tidak semua jenis music dan alat-alat yang digunakannya adalah haram, sebagaimana pandangan para ulama fiqh. Ia sangat tergantung pada motiv. Bila gairah akan keindahan dari music itu diarahkan kepada Tuhan, gairah cinta kepada-Nya akan semakin kuat. Musik adalah tangga jiwa menuju Tuhan. Tetapi bila ia diarahkan untuk hasrat-hasrat duniawi ia akan mengarahkan kepada rangsangan-rangsangan keburukan dan kejahatan.

Tokoh sufi lain yang menghubungkan musik dengan spiritualitas Islam adalah Ruzbihan Baqli Syirazi. Dalam “Risalah al-Quds”, dia menjelaskan signifikansi music, criteria yang orang-orang yang boleh mendengarkan dan jenis music yang pantas untuk dimainkan dan didengarkan. 

Intelektual muslim modern terkemuka, seorang parenialis Seyyed Hossein Nasr mengemukakan bahwa “music di dunia Islam adalah salah satu media paling universal dan berpengaruh untuk mengekspresikan hal yang terkandung di dalam inti Islam, yakni perwujudan “Keindahan Wajah Tuhan” dan kepasrahan pada Sang Realitas ini, Realitas yang sekaligus adalah Keindahan dan Kedamaian, Kasih Sayang dan Cinta itu sendiri”. Bagi kaum sufi, music berfungsi menenangkan pikiran dari beban urusan kemanusiaan, menghibur kecenderungan alamiyah manusia dan menstimulasinya untuk melihat rahasia ketuhanan (asrar rabbani). Dengarlah ungkapan Sa’d al-Din Hamuyah :

“Ketika hati menikmati konser music spiritual
Ia merasakan kehadiran Sang Kekasih
Membawa jiwa ke ruang Rahasia-rahasia-Nya
Melodi adalah tunggangan jiwamu
Ia membimbingmu dengan riang
Ke dunia Sang Sahabat  

Disadur dari tulisan di Instagram KH Husein Muhamad @husein553
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar